Menyelusuri kota Semarang
28 Maret 2009
Berangkat dari rumah setengah 6 pagi, janjian dengan ratna dan temen nya namanya wuri. Kita janjian ketemu di terminal jombor jogja jam 6 pagi, ternyata molor, kita berangkat dari terminal jombor jam setengah 7, dengan bis Ramayana klas ekonomi menuju semarang dengan tarif Rp 19.00, bis melewati, muntilan, magelang, ambarawa dan ungaran, tapi sayang bis yang kita tumpangi berjalan lambat, jam 10 kita baru sampai di terminal banyumanik semarang, kita teruskan dengan naik bis kota menuju ke RS kariyadi semarang, menunggu temen di depan rs. Temen dari ratna (mas bambang) menjemput kita sekitar jam 11, langusung menuju ke klenteng paling besar di kota semarang, klenteng saam poo kong namanya. Berada di simongan, arah ke selatan dari rs kariyadi. Tidak ada tiket masuk.



Klenteng sam poo kong merupakan klenteng yg di bangun untuk menghormati cheng ho yang singgah di kotasemarang. Sayang nya karna tidah beribadah kita tidak di perkenan kan masuk ke dalam, hanya dari luar aja kita bisa liat – liat, ke tempat relief juga kitatidak di perbolehkan. Waktu itu semarang benar – benar panas. Di luar dari bangungan klenteng terdapat patung laksamana cheng hoo yang gagah, dan juga terdapat beberapa hiu raksasa yg masih menyala, yang lelehan lilin nya membentuk seperti kolam, terdapat juga tempat foto dengan menggunakan baju cina. Klenteng ini memang benar – benar besar, terdapat banyak ukiran serta patung – patung yang unik.
Setelah selesai kepanasan di klenteng ini perjalanan kita lanjutkan ke lawang sewu. Lawang sewu berada di seberang jalan dari tugu muda. Tembok depan waktu itu dalam pengerjaan pengecatan. Tariff masuk ber lima sekitar Rp 24.000 ber empat, dengan pemandu tambah rp 20.000. oleh mas pemandu kita di ajak berkeliling, pertama kita melewati tangga naik ke atas yang terdapat kaca mmozaik bergambar wanita. Di tempat ini dulu tempat syuting film ayat – ayat cinta. Kemudian ke tempat kantor kepala kantor lawang sewu. Lawang sewu dahulu di dirikan oleh belanda sebagai pusat kantor perkereta apian. Pada waktu itu transportasi dominan menggunakan kereta api, yaitu untuk mengangkut tebu, sebagai komoditas utama ekspor. Di ruangan kantor kepala terdapat balkon yang bisa terlihat tugu muda. Setelah itu kita berkeliling, melihat tempat penampungan air. Kemudian ke ruangan yg dulu untuk gudang, tempat pembantaian, serta berkeliling melewati pintu2. Akhirnya sampai tempat yang mengarah ke ruang bawah tanah, untuk masuk ke ruang bawah bayar lagi sekitar rp 6.000 per orang, dengan menggunakan sepatu plastik.


Dengan menggunakan senter (1 orang berdua), rombongan yg kira – kira terdiri dari 10an orang menuruni anak tangga untuk menuju bawah tanah (jaman belanda merupakan tempat penampungan air hujan), air tergenang dan gelap, cahaya hanya dari senter. oleh pemandu di tunjuk kan tempat uji nyali, kemudian berjalan kaki kita di tunjukkan tempat penjara jongkok (jaman jepang), kemudian ke penjara berdiri. Setelah itu kita kembali ke atas. Dan melanjutkan perjalanan.
Makan siang di warung soto, soto semarang yg porsi nya benar – benar kecil tapi nikmat.
Sholat dzuhur di Masjid agung semarang atau katanya di sebut juga sebagai masjid besar kauman, di sebut juga masjid alon – alon. Berada di samping pasar johor, menurut cerita masjid kauman dulu pernah di bakar karena tinggi menara nya menyamai menara Masjid kudus. Walaupun di dekat pasar tapi benar – benar bersih, walaupun banyak orang yang istirahat di aula masjid.
Perjalanan kita lanjutkan kembali ke kota lama, icon kota semarang, di dalam mobil berkeliling di kota lama, melihat rumah – rumah jaman belanda, melewati stasiun tawang, taman air, dan berhenti di gereja bleduk (dari kata mblenuk) terlihat dari atap nya yang besar. Di sekitar gereja terdapat banyak bangunan tua.
Kota lama jaman belanda merupakan perumahan bagi orang belanda, merupakan kawasan yang terpisah, terdapat sekitar 50 bangunan, terlihat dari bangunan, jalan, lampu dahulu merupakan kawasan elite dan modern.
Perjalanan kita lanjutkan kembali, melewati pertokoan, melewati kawasan pecinan, berhenti di gang Lombok di depan klenteng Tai kek sie (semoga ga salah tulis), klenteng berwarna biru.. di depan nya terdapat replica kapal cheng hoo, di sebuah sungai kapal ini berdiri. Kata nya kalau di malam hari terdapat banyak penjual makanan di sini dan ramai, ada rumah makan semawis.
Perjalanan di lanjutkan ke Masjid agung jawa tengah, katanya masjid terbesar di semarang, kita ga terlau tertarik karna ga termasuk dalam itinerary kita, tapi ternyata sampai di sana, Masjid nya benar – benar bagus, mungkin karna ini masjid terbagus yang pernah ku lihat. Terdapat menara yg besar dan tinggi.

Puas dan pulang, naek bis ke jogja, walau bis hanya merayap, dari semarang jam 5 sore, sampai magelang jam 8 malam, sampai jogja jam setengah sepuluh malam. Walau capek dan bĂȘte di perjalanan yang lambat, tapi puas bisa melihat kebudayaan cina, belanda, jepang dan islam. Love Indonesia.
liat fotonya disini
Berangkat dari rumah setengah 6 pagi, janjian dengan ratna dan temen nya namanya wuri. Kita janjian ketemu di terminal jombor jogja jam 6 pagi, ternyata molor, kita berangkat dari terminal jombor jam setengah 7, dengan bis Ramayana klas ekonomi menuju semarang dengan tarif Rp 19.00, bis melewati, muntilan, magelang, ambarawa dan ungaran, tapi sayang bis yang kita tumpangi berjalan lambat, jam 10 kita baru sampai di terminal banyumanik semarang, kita teruskan dengan naik bis kota menuju ke RS kariyadi semarang, menunggu temen di depan rs. Temen dari ratna (mas bambang) menjemput kita sekitar jam 11, langusung menuju ke klenteng paling besar di kota semarang, klenteng saam poo kong namanya. Berada di simongan, arah ke selatan dari rs kariyadi. Tidak ada tiket masuk.

Klenteng sam poo kong merupakan klenteng yg di bangun untuk menghormati cheng ho yang singgah di kotasemarang. Sayang nya karna tidah beribadah kita tidak di perkenan kan masuk ke dalam, hanya dari luar aja kita bisa liat – liat, ke tempat relief juga kitatidak di perbolehkan. Waktu itu semarang benar – benar panas. Di luar dari bangungan klenteng terdapat patung laksamana cheng hoo yang gagah, dan juga terdapat beberapa hiu raksasa yg masih menyala, yang lelehan lilin nya membentuk seperti kolam, terdapat juga tempat foto dengan menggunakan baju cina. Klenteng ini memang benar – benar besar, terdapat banyak ukiran serta patung – patung yang unik.
Setelah selesai kepanasan di klenteng ini perjalanan kita lanjutkan ke lawang sewu. Lawang sewu berada di seberang jalan dari tugu muda. Tembok depan waktu itu dalam pengerjaan pengecatan. Tariff masuk ber lima sekitar Rp 24.000 ber empat, dengan pemandu tambah rp 20.000. oleh mas pemandu kita di ajak berkeliling, pertama kita melewati tangga naik ke atas yang terdapat kaca mmozaik bergambar wanita. Di tempat ini dulu tempat syuting film ayat – ayat cinta. Kemudian ke tempat kantor kepala kantor lawang sewu. Lawang sewu dahulu di dirikan oleh belanda sebagai pusat kantor perkereta apian. Pada waktu itu transportasi dominan menggunakan kereta api, yaitu untuk mengangkut tebu, sebagai komoditas utama ekspor. Di ruangan kantor kepala terdapat balkon yang bisa terlihat tugu muda. Setelah itu kita berkeliling, melihat tempat penampungan air. Kemudian ke ruangan yg dulu untuk gudang, tempat pembantaian, serta berkeliling melewati pintu2. Akhirnya sampai tempat yang mengarah ke ruang bawah tanah, untuk masuk ke ruang bawah bayar lagi sekitar rp 6.000 per orang, dengan menggunakan sepatu plastik.

Dengan menggunakan senter (1 orang berdua), rombongan yg kira – kira terdiri dari 10an orang menuruni anak tangga untuk menuju bawah tanah (jaman belanda merupakan tempat penampungan air hujan), air tergenang dan gelap, cahaya hanya dari senter. oleh pemandu di tunjuk kan tempat uji nyali, kemudian berjalan kaki kita di tunjukkan tempat penjara jongkok (jaman jepang), kemudian ke penjara berdiri. Setelah itu kita kembali ke atas. Dan melanjutkan perjalanan.
Makan siang di warung soto, soto semarang yg porsi nya benar – benar kecil tapi nikmat.
Sholat dzuhur di Masjid agung semarang atau katanya di sebut juga sebagai masjid besar kauman, di sebut juga masjid alon – alon. Berada di samping pasar johor, menurut cerita masjid kauman dulu pernah di bakar karena tinggi menara nya menyamai menara Masjid kudus. Walaupun di dekat pasar tapi benar – benar bersih, walaupun banyak orang yang istirahat di aula masjid.
Perjalanan kita lanjutkan kembali ke kota lama, icon kota semarang, di dalam mobil berkeliling di kota lama, melihat rumah – rumah jaman belanda, melewati stasiun tawang, taman air, dan berhenti di gereja bleduk (dari kata mblenuk) terlihat dari atap nya yang besar. Di sekitar gereja terdapat banyak bangunan tua.
Kota lama jaman belanda merupakan perumahan bagi orang belanda, merupakan kawasan yang terpisah, terdapat sekitar 50 bangunan, terlihat dari bangunan, jalan, lampu dahulu merupakan kawasan elite dan modern.
Perjalanan kita lanjutkan kembali, melewati pertokoan, melewati kawasan pecinan, berhenti di gang Lombok di depan klenteng Tai kek sie (semoga ga salah tulis), klenteng berwarna biru.. di depan nya terdapat replica kapal cheng hoo, di sebuah sungai kapal ini berdiri. Kata nya kalau di malam hari terdapat banyak penjual makanan di sini dan ramai, ada rumah makan semawis.
Perjalanan di lanjutkan ke Masjid agung jawa tengah, katanya masjid terbesar di semarang, kita ga terlau tertarik karna ga termasuk dalam itinerary kita, tapi ternyata sampai di sana, Masjid nya benar – benar bagus, mungkin karna ini masjid terbagus yang pernah ku lihat. Terdapat menara yg besar dan tinggi.
Puas dan pulang, naek bis ke jogja, walau bis hanya merayap, dari semarang jam 5 sore, sampai magelang jam 8 malam, sampai jogja jam setengah sepuluh malam. Walau capek dan bĂȘte di perjalanan yang lambat, tapi puas bisa melihat kebudayaan cina, belanda, jepang dan islam. Love Indonesia.
liat fotonya disini

Komentar